Welcome to my Blog

Welcome to my Blog
I Hope Your Like

Selasa, 01 Juli 2014

Melepaskanmu!

Ketika wajahku mendongak, disitu ada kamu.  
Kamu yang melangkah terlalu besar.
Kamu yang seketika membuatku termangu.
Kamu yang sekelebat melewati hatiku.  


Tampang bodoh yang seakan melekat diwajahmu. Tapi kamu tidak seharusnya bodoh, karena kamu telah ‘sukses’ menaklukan hatiku. Tidak, kamu tidak bodoh. Hanya saja, aku yang menganggapmu bodoh, karena mengabaikanku begitu saja.


“Kamu menatapku seperti menatap .. cinta? Aku takut ditatap seperti itu olehmu,
Takut salah mengira arti tatapan itu. Jangan lagi ya? Boleh saja, jika kamu memberi
Harapan yang sesungguhnya.”


Entah telah terhitung berapa detik, berapa menit, berapa hari, atau berapa minggu, aku mulai.. menyukaimu. Maaf jika dulu aku menyepelekanmu. Maaf sekali. Aku seperti itu karena aku tidak mau terjebak dalam cinta sepihak lagi. Namun siapa yang tahu kalau aku akan kembali terjebak? Itu… senjata makan tuan bukan?

Dengar ya, aku ini hanya pengecut. Mungkin sampai saat ini akan seperti itu. Aku menyukaimu. Hari ini, esok, lusa, atau hari setelahnya.. mungkin akan seperti itu. Mataku ini tidak akan lelah mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaanmu. Walau rasanya kekantukkan menjalari saraf-saraf mataku. Ujung bibirku akan terangkat ketika membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi antara kita. Tidak akan mungkin terjadi, benar. Kenapa?

Karena kamu tidak mengenalku. Maksudku.. kamu tidak tahu keberadaanku. Kamu tidak mengenal hatiku. Kamu hanya tahu aku adalah teman sekelasmu. Mungkin namaku saja kamu tidak hafal. Sementara namamu, bagaikan emas yang kusimpan rapi ditempat yang tidak seorang pun mengetahuinya. Tahu bagaimana perasaanku?

Aku pikir hanya diam itu bisa membuatmu peka. Selama itu aku menunggu, menatapmu dari kejauhan karena kita memang tidak pernah saling tegur. Hubungan teman diantara kita pun tidak ada. Tetapi betapa bodoh dan pengecutnya aku, malah menunggumu berkata “Aku menyukaimu”.

Aku pendiam dikelas. Jangankan untuk memberitahu kalau aku menyukaimu, maju kedepan kelas saja aku sudah takut. Gemetaran. Selain pengecut, aku juga tidak punya nyali.

Selama ini aku tahan mendengar gosip kalau kamu dekat dengan teman sekelasku. Gosip itu bertahan lama, hingga membuat telingaku pengang mendengarnya. Hatiku pun bengkak rasanya. Lalu ditambah dengan gosip kamu berpacaran dengan perempuan itu. Aku hanya tersenyum pahit. Menahan rasa sakit hatiku. Aku harus bagaimana? Aku tidak tahu! Menangis pun rasanya sia-sia saja. Toh kamu tidak akan seketika menyukaiku kan? Salahnya aku adalah pengecut, atau mempertahankan harga diri sebagai perempuan. Lalu, aku yang menyukaimu, tanpa berkenalan dulu dengan hatimu.

Tetapi aku hanya ingin menegaskan. Aku diam, bukan berarti berhenti. Aku tidak bertingkah bukan berarti menyerah. Secara otomatis rasa sukaku akan terus bertambah, jika terus memperhatikanmu. Tingkahmu, tawamu, bagaikan matahari sebelum senja. Aku terpana. Aku benar-benar terpana kepadamu. Seperti perempuan lainnya, ketika menyukai seorang lelaki. Tetapi, ini cinta sepihak kan? Mendengarnya saja sudah membuatku enggan terpaut. Tapi sayangnya aku seperti pelanggan setianya—‘cinta sepihak’. Aku, menyedihkan bukan?

Hingga akhirnya aku muak dengan perasaanku sendiri. Untuk apa terus menyukaimu? Kamu hanya bumerang bagiku. Rasa sakit itu akan terus menjalari hatiku. Tapi bagaimana? Bagaimana caranya aku melupakanmu? Mataku sudah terbiasa melihatmu. Mau dipaksakan bagaimana pun mata ini akan gatal jika tidak melihatmu sehari saja. Tahu bagaimana sulitnya aku? Menghapus bayangmu yang rasanya sangat sulit dari ingatan permanenku. 


Apakah aku salah? Mencoba melepaskan sesuatu yang tidak pernah aku miliki? Itu.. kamu!


Aku sering berpikir, apakah aku tidak layak untukmu? Kalau begitu, lebih baik aku melepaskanmu. Walaupun kamu tidak merasakan aku pernah ada disisimu. Aku pernah ingin menggenggam hatimu. Lalu akhirnya mencoba melepaskanmu.


Aku ingin melepaskanmu, membiarkanmu mencari seseorang yang layak untukmu. Ketika, aku siap mengatakan, “Apakah aku tidak layak untukmu?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar