Ketika wajahku mendongak, disitu ada kamu.
Kamu yang melangkah terlalu besar.
Kamu yang seketika membuatku termangu.
Kamu yang sekelebat melewati hatiku.
Tampang bodoh yang seakan melekat diwajahmu. Tapi kamu tidak seharusnya
bodoh, karena kamu telah ‘sukses’ menaklukan hatiku. Tidak, kamu tidak bodoh.
Hanya saja, aku yang menganggapmu bodoh, karena mengabaikanku begitu saja.
“Kamu menatapku seperti menatap .. cinta? Aku takut ditatap seperti itu olehmu,Takut salah mengira arti tatapan itu. Jangan lagi ya? Boleh saja, jika kamu memberiHarapan yang sesungguhnya.”
Entah telah
terhitung berapa detik, berapa menit, berapa hari, atau berapa minggu, aku
mulai.. menyukaimu. Maaf jika dulu aku menyepelekanmu. Maaf sekali. Aku seperti
itu karena aku tidak mau terjebak dalam cinta sepihak lagi. Namun siapa yang
tahu kalau aku akan kembali terjebak? Itu… senjata makan tuan bukan?
Dengar ya,
aku ini hanya pengecut. Mungkin sampai saat ini akan seperti itu. Aku
menyukaimu. Hari ini, esok, lusa, atau hari setelahnya.. mungkin akan seperti
itu. Mataku ini tidak akan lelah mengedarkan pandangan untuk mencari
keberadaanmu. Walau rasanya kekantukkan menjalari saraf-saraf mataku. Ujung
bibirku akan terangkat ketika membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi
antara kita. Tidak akan mungkin terjadi, benar. Kenapa?
Karena kamu
tidak mengenalku. Maksudku.. kamu tidak tahu keberadaanku. Kamu tidak mengenal
hatiku. Kamu hanya tahu aku adalah teman sekelasmu. Mungkin namaku saja kamu
tidak hafal. Sementara namamu, bagaikan emas yang kusimpan rapi ditempat yang
tidak seorang pun mengetahuinya. Tahu bagaimana perasaanku?
Aku pikir
hanya diam itu bisa membuatmu peka. Selama itu aku menunggu, menatapmu dari
kejauhan karena kita memang tidak pernah saling tegur. Hubungan teman diantara
kita pun tidak ada. Tetapi betapa bodoh dan pengecutnya aku, malah menunggumu
berkata “Aku menyukaimu”.
Aku pendiam
dikelas. Jangankan untuk memberitahu kalau aku menyukaimu, maju kedepan kelas
saja aku sudah takut. Gemetaran. Selain pengecut, aku juga tidak punya nyali.
Selama ini
aku tahan mendengar gosip kalau kamu dekat dengan teman sekelasku. Gosip itu
bertahan lama, hingga membuat telingaku pengang mendengarnya. Hatiku pun
bengkak rasanya. Lalu ditambah dengan gosip kamu berpacaran dengan perempuan
itu. Aku hanya tersenyum pahit. Menahan rasa sakit hatiku. Aku harus bagaimana?
Aku tidak tahu! Menangis pun rasanya sia-sia saja. Toh kamu tidak akan seketika
menyukaiku kan? Salahnya aku adalah pengecut, atau mempertahankan harga diri
sebagai perempuan. Lalu, aku yang menyukaimu, tanpa berkenalan dulu dengan
hatimu.
Tetapi aku
hanya ingin menegaskan. Aku diam, bukan berarti berhenti. Aku tidak bertingkah
bukan berarti menyerah. Secara otomatis rasa sukaku akan terus bertambah, jika
terus memperhatikanmu. Tingkahmu, tawamu, bagaikan matahari sebelum senja. Aku
terpana. Aku benar-benar terpana kepadamu. Seperti perempuan lainnya, ketika menyukai
seorang lelaki. Tetapi, ini cinta sepihak kan? Mendengarnya saja sudah
membuatku enggan terpaut. Tapi sayangnya aku seperti pelanggan setianya—‘cinta
sepihak’. Aku, menyedihkan bukan?
Hingga
akhirnya aku muak dengan perasaanku sendiri. Untuk apa terus menyukaimu? Kamu
hanya bumerang bagiku. Rasa sakit itu akan terus menjalari hatiku. Tapi
bagaimana? Bagaimana caranya aku melupakanmu? Mataku sudah terbiasa melihatmu.
Mau dipaksakan bagaimana pun mata ini akan gatal jika tidak melihatmu sehari
saja. Tahu bagaimana sulitnya aku? Menghapus bayangmu yang rasanya sangat sulit
dari ingatan permanenku.
Apakah aku salah? Mencoba melepaskan sesuatu yang tidak pernah aku miliki? Itu.. kamu!
Aku sering
berpikir, apakah aku tidak layak untukmu? Kalau begitu, lebih baik aku
melepaskanmu. Walaupun kamu tidak merasakan aku pernah ada disisimu. Aku pernah ingin menggenggam hatimu. Lalu akhirnya mencoba melepaskanmu.
Aku ingin melepaskanmu, membiarkanmu mencari seseorang yang layak untukmu. Ketika, aku siap mengatakan, “Apakah aku tidak layak untukmu?”











